Tugas IV : Ilmu Sosial Dasar

Pemuda dan Sosialisasi

  1. Pemuda

Pemuda adalah istilah secara umum yang diberikan kepada seseorang yang masih muda, masa antara anak-anak dan dewasa (masa dewasa). Istilah ini juga merupakan istilah spesifik bagi kaum muda lelaki sedangkan istilah untuk kaum muda perempuan adalah pemudi. Di seluruh dunia, istilah youth (pemuda), adolescent (remaja), teenager (remaja), kid (anak-anak), dan young person (orang muda) dalam Bahasa Inggris saling bertukar tempat, mengandung arti yang sama tetapi kadang-kadang dibedakan. Youth dapat diartikan kepada seluruh waktu kehidupan seseorang ketika orang tersebut muda, termasuk masa kanak-kanak. Youth adalah kata lain untuk remaja yang berorientasi secara ilmiah dan istilah umum untuk remaja dan keremajaan. Istilah umum lainnya untuk ‘pemuda’ adalah young person (orang muda) dan young people (orang-orang muda). Masa muda adalah tahap membangun konsep diri. Konsep diri remaja dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti teman sebaya, gaya hidup, jenis kelamin, dan budaya. Inilah waktu dari kehidupan seseorang ketika mereka harus menentukan dan memutuskan apa yang selanjutnya akan mempengaruhi masa depan mereka. 12 Agustus dinyatakan sebagai Hari Pemuda Internasional oleh PBB.

  1. Sosialisasi

Sosialisasi adalah istilah yang digunakan oleh sosiolog, psikolog sosial, antropolog, ilmuwan politik dan pendidik untuk merujuk pada proses seumur hidup mewarisi dan menyebarkan norma, adat istiadat dan ideologi, mempersiapkan individu dengan keterampilan dan kebiasaan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat sendiri.  Dengan demikian, sosialisasi dapat diartikan sebagai sarana di mana kelangsungan sosial dan budaya tercapai. Sosialisasi menjelaskan suatu proses yang dapat menyebabkan rasa diinginkan, atau “moral”, akibat dari apa yang dikatakan masyarakat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sosialisasi dapat diartikan sebagai usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik umum (milik negara), proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dalam lingkungannya, dan upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal, dipahami, dan dihayati oleh masyarakat; pemasyarakatan.

  1. Proses Sosialisasi
  • George Herbert Mead

Dia berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

– Tahap persiapan (Preparatory Stage): Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contoh: Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.

– Tahap meniru (Play Stage): Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other).

– Tahap siap bertindak (Game Stage): Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lainpun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

– Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other): Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama–bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya– secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

  • Charles H. Cooley

Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self-concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut:

– Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain. Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.

– Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita. Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.

– Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut. Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.

Ketiga tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, dimana seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan apa penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak dicap “nakal”, maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai “anak nakal” sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, walaupun penilaian itu belum tentu kebenarannya.

  1. Peran Sosial Mahasiswa dan Pemuda di Masyarakat
  • Sebagai Agent of Change. Mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut bersifat kritis dan diperlukan implementasi yang nyata. Mahasiswa adalah garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat, mengembalikan nilai-nilai kebenaran yang dilakukan oleh kelompok-kelompok elit yang hanya mementingkan dirinya dan nasib kelompoknya. Dan jangan sampai garda terdepan ini terikat oleh politik dan kepentingan kelompok, dan melupakan peranannya sebagai agen of changes. Dan harapan bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa.
  • Sebagai Control Sosial. Mahasiswa sebagai penengah antara Pemerintah dan masyarakat, di sinilah peranan mahasiswa sebagai pengontrol. Mahasiswa menyampaikan aspirasi masyarakat terhadap pemerintah dan juga mahasiswa menunjukkan sikap yang baik terhadap masyarakat sebagai kontrol sosial. Sebagai pengontrol sosial mahasiswa juga memiliki tugas mengontrol peraturan – peraturan dan kebijakan – kebijakan yang dibuat untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
  • Sebagai Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia – manusia tangguh yang memilik kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya.
  1. Tujuan Sosialisasi
  • Mengembangkan kemampuan seorang anak dalam kehidupan untuk berkomuniasi secara efektif.
  • Memberikan keterampilan yang dibutuhkan seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat.
  • Menanamkan nilai-nilai kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat.
  • Memberi keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang.
  • Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien.
  • Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari.
  • Membiasakan individu dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat.
  1. Organisasi yang Saya Ikuti

Saat SMA, saya pernah mengikuti organisasi jurnalistik. Dalam organisasi, saya bertindak sebagai penata layout. Meskipun belum terlalu mahir, saya berusaha menampilkan yang terbaik. Penata layout disini juga merupakan tugas penting. Bahkan lebih penting dari penulis artikel. Karena jika ada artikel yang menarik, namun tidak dibarengi dengan tampilan yang bagus, maka juga akan sulit untuk menarik minat pembaca. Maka dari itu, saya berusaha untuk bisa menampilkan sebuah majalah semenarik mungkin. Hal yang paling dihindari oleh penata layout adalah apabila jika waktu sudah mendekati deadline. Apabila kita tidak dapat menyelesaikannya tepat waktu, kita tidak akan bisa menerbitkan majalah. Dan pembaca akan kecewa terhadap kita.

Sumber:

Advertisements
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: