Laporan Interpretatif

Laporan Interpretatif

Laporan interpretatif adalah laporan yang mengandung pandangan, pemikiran, penafsiran, dan tidak jarang juga pendapat wartawan yang disajikan secara mendalam dan hati – hati. Wartawan memberikan interpretasi, spekulasi, dan pendapat dalam mengulas suatu berita yang baru terjadi ataupun yang sudah lama terjadi. Wartawan yang dipercaya untuk menulis laporan ini biasanya adalah wartawan senior. Ia dituntut untuk menguasai masalah seputar topik yang diangkat dan dapat melakukannya dengan baik, jujur, dan objektif. Selain itu, dia juga berani mengutarakan pendapatnya karena ia memang benar – benar mengetahui fakta dari berita tersebut. Karena laporan interpretatif bergantung kepada pertimbangan nilai dan fakta, maka sebagian pembaca menyebutnya sebagai ”opini”. Biasanya, para reporter interpretatif menemui sedikit masalah dalam pencarian fakta. Mereka umumnya mencoba menerangkan berbagai peristiwa publik. Sumber informasi dapat diperoleh dari narasumber yang mungkin hanya memberikan informasi yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Laporan interpretatif biasanya dipusatkan untuk menjawab pertanyaan mengapa. Misalnya, mengapa walikota mengeluarkan pernyataan tersebut, menunjuk itu, mengadakan perjalanan itu? Pendeknya, berita interpretatif bersifat bertanya, apa makna sebenarnya dari peristiwa tersebut.

Contoh laporan interpretatif:

KOMPAS.com – Memiliki tubuh yang kurus tidak serta merta membuat seseorang memiliki kadar Kolesterol yang rendah dan berisiko lebih kecil mengidap penyakit pembuluh darah dan jantung (kardiovaskular). Seseorang yang bertubuh kurus, apabila memiliki riwayat kadar Kolesterol tinggi dalam keluarga, tetap memiliki risiko lebih besar mengalami penyakit jantung.

Interpretasi:

Bukan hanya karena gemuk maka orang berpenyakit jantung. Dibanding orang kurus, orang gemuk memang lebih berisiko. Namun, bukan sedikit orang kurus yang mengidap penyakit jantung. Jika sejak kecil mengidap penyakit jantung bawaan, misalnya, dan belum dioperasi, bisa saja keluhan jantung muncul.  

Jenis kelainan jantung bawaan kebocoran sekat bilik jantung (VSD), misalnya, biasanya semakin mengecil dengan bertambahnya usia. Selama kebocoran itu belum mengecil habis, masih tergolong mengidap penyakit jantung. Orang kurus juga bisa saja mengidap darah tinggi, kolesterol, dan trigliserida tinggi, yang jika dibiarkan berakibat buruk pada jantung dan akhirnya berkembang menjadi penyakit jantung. Begitu juga jika orang kurus mengidap kencing manis atau memang memiliki kelainan anomali pembuluh darah besar pada jantung, seperti anomali pembuluh aorta atau ada penyakit lain yang bisa mengganggu jantung.

Referensi:

Willing, S. 2010. Jurnalistik: Petunjuk Teknis Menulis Berita. Jakarta: Erlangga.

Sumadiria, Haris. 2008. Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature. Bandung: Simbuisa Rekatama Media.

Candra, Asep. (2012, December 6). Kurus Tak Berarti Aman dari Risiko Sakit Jantung. Retrieved November 8, 2015, from http://health.kompas.com/read/2012/12/06/16112735/kurus.tak.berarti.aman.dari.risiko.sakit.jantung.

Advertisements
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: